Etika Filsafat

A. Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

The Liang Gie mendefinisikan filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkutkan landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.


sumber: internet


Tempat kedudukan filsafat ilmu ditentukan oleh dua lapangan penyelidikan filsafat ilmu berikut:
a. Sifat pengetahuan ilmiah. Dalam bidang ini filsafat ilmu berkaitan erat dengan epsitimologi yang mempunyai fungsi menyelidiki syarat-syarat pengetahuan manusia dan bentuk-bentuk pengetahuan manusia.

b. Menyangkut cara-cara mengusahakan dan mencapai pengetahuan ilmiah. Dalam bidang ini filsafat ilmu berkaitan erat dengan logika dan metodologi. Ini berarti cara-cara mengusahakan dan memperoleh pengetahuan ilmiah berkaitan erat dengan susunan logis dan metodologis serta tata urutan berbagai langkah dan unsur yang terdapat dalam kegiatan ilmiah pada umumnya. (Beerling,1988).

Objek Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu sebagaimana halnya dengan bidang-bidang ilmu yang lain, juga memiliki objek material dan objek formal tersendiri.

a. Objek Material Filsafat Ilmu

Objek material adalah objek yang dijadikan sasaran penyelidikan oleh suatu ilmu atau objek yang dipelajari oleh suatu ilmu itu.

b. Objek Formal  Filsafat Ilmu

Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Setiap ilmu pasti berbeda dalam objek formalnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu itu sesungguhnya? Bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah? Apa fungsi pengetahuan itu bagi manusia? Problem inilah yang dibicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan,yakni landasan ontologisme, epistimologis, dan aksiologis.

Wilayah pengetahuan terdiri dari empat disiplin filsafat sebagai berikut: pertama, epistimologis (cabang filsafat yang mengkaji hakikat pengetahuan dari empat segi yaitu sumber pengetahuan, batas pengetahuan, struktur pengetahuan, dan keabsahan pengetahuan). Kedua, filsafat ilmu pengetahuan (cabang filsafat yang mengkaji ilmu pengetahuan dari segi citi-ciri dan cara-cara pemerolehannya. Ketiga, logika (cabang filsafat yang mengkaji azas-azas berfikir secara lurus dan tertib). Keempat, metodologi (sebagai cabang filsafat yang mengkaji metode-metode yang digunakan dalam dunia ilmiah).

Wilayah ada terdiri dua disiplin filsafat. Pertama, ontologisme (cabang filsafat yang berurusan dengan “yang ada sebagai yang ada” atau “yang sebenar-benarnya ada” sebagai lawan dari disiplin yang berurusan dengan bentuk particular). Kedua, metafisika (cabang filsafat yang mengkaji semesta supra-inderawi di balik gejala-gejala empiris. Ontologis berurusan dengan semesta empiris, sedangkan metafisika berurusan dengan semesta di sebalik gejala-gejala empiris).

Wilayah nilai, terdiri atas dua disiplin filsafat, yakni Etika (cabang filsafat yang merefleksikan nilai-nilai moral, dan Estetika (disiplin filsafat yang merefleksikan nilai-nilai estetis).

Dalam coraknya filsafat mempunyai beberapa cabang, yaitu metafisika, logika, etika, estetika, epsitimologi, dan filsafat-filsafat khusus lainnya;

- Metafisika : filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, hakikat yang bersifat transenden, di luar jangkauan pengalaman manusia.

- Logika : filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah.

- Etika : filsafat tentang perilaku yang baik dan yang buruk.

- Estetika : filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek.

Yang menjadi tujuan dari filsafat ialah mencari hakikat kebenaran dari segala sesuatu, baik dalam kebenaran berfikir (logika), berperilaku (etika), maupun dalam mencari hakikat atau keaslian (metafisika).

Kegunaan Filsafat

Dr.Oemar A.Hosein mengatakan : Ilmu memberi kepada kita pengetahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran.

Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang hakikat ilmu secara umum mengandung manfaat sebagai berikut.

a. Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah. Kritis disini menghindarkan pada sikap solipsistic, yakni menganggap hanya pendapatnya yang paling benar.

b. Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan. Sebab kecenderungan yang terjadi di kalangan para ilmuwan menerapkan suatu metode ilmiah tanpa memperhatikan struktur ilmu pengetahuan itu sendiri. Satu sikap yang diperlukan di sini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai dengan struktur ilmu pengetahuan, bukan sebaliknya.

c. Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode ilmiah 
yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar dapat dipahami dan dipergunakan secara umum.

Berbagai macam pendapat mengenai ruang lingkup filsafat :

1. Prof Alburey Castell, membagi masalah-masalah filsafat kepada lima bagian:

a. Theological Problem,

b. Metaphisical Problem,

c. Epistecal Problem,

d. Political Problem,  

e. Historical Problem.

2. Dr.M.j. Langeveld menyatakan bahwa filsafat dapat diberikan sebagai satu kesatuan yang terdiri dari tiga lingkungan masalah:

a. Lingkungan masalah-masalah keadaan,

b. Lingkungan masalah-masalah pengetahuan,

c. Lingkungan masalah-masalah nilai.

3. Al Kindi (wafat 893 H), ahli pikir pertama dalam filsafat islam membagi filsafat dalam tiga lapangan:

a. Ilmu Fisika, merupakan tingkatan yang terendah,

b. Ilmu Matematika, tingkatan tengah,

c. Ilmu Ketuhanan, tingkatan tertinggi.

4. Aristoteles, mengadakan pembagian secara konkret dan sistematis menjadi empat cabang, yaitu:

a. Logika, ilmu ini dianggap sebagai ilmu pendahuluan bagi filsafat.

b. Filsafat teoritis. Cabang ini mencangkup:


1. Ilmu fisika yang mempersoalkan dunia materi dari alam nyata.
2. Ilmu matematika yang mempersoalkan benda-benda alam dalam kuantitasnya.

3. Ilmu metafisika yang mempersoalkan tentang hakikat segala sesuatu. Ini adalah yang paling utama dari filsafat.

c. Filsafat praktis. Cabang ini mencangkup :

1. Ilmu etika, yang mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam hidup perseorangan.

2. Ilmu ekonomi, yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran dalam keluarga (rumah tangga).

3. Ilmu politik yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran dalam negara.

d. Filsafat Poetika (Kesenian).

B. Aliran-aliran Filsafat

a. Rasionalisme

Rasionalisme adalah faham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalis, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir.

Para tokoh aliran Rasionalisme diantaranya yaitu: Descartes (1596-1650 M), Spinoza (1632-1677 M) dan Leibniz (1646-1716 M).

b.  Idealisme

Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah idelaisme diambil dari kada ide yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. 

Pandangan ini telah dimiliki oleh Plato dan pada filsafat modern dipelopori oleh j.G fichte, Sckelling dan Hegel. Idealisme memiliki argument epistimologi tersendiri. Oleh karena iru, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi bergantung kepada spirit tidak disebut idealis karena mereka tidak menggunakan argument epistimologis yang digunakan oleh idealism.

c.  Empirisme

Empirisme adalah salah satu aliran yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Istilah Empirisme diambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin, Empirisme adalah lawan Rasionalisme.

Untuk memahami inti filsafat Empirisme perlu memahami dulu dua cirri pokok Empirisme yaitu mengenai makna dan teori tentang pengetahuan. Teori makna dan empirisme selalu harus dipahami lewat penafisran pengalaman. Oleh karena itu, bagi orang empirisme jiwa dapat dipahami sebagai gelombang pengalaman kesadaran, materi sebagai pola (pattern) jumlah yang dapat diindra, dan hubungan kausalitas sebagai urutan peristiwa yang sama. Sedangkan teori pengetahuan, menurut orang empirime, semua kebenaran yang disebut tadi adalah kebenaran yang diperoleh lewat observasi jadi ia kebenaran aposteriori.

Di antara tokoh aliran Empirisme adalah Francis Bacon, Thomas Hobbes, Jhon Lock dan lainnnya.

d. Kantianisme

Kantianisme dipelopori oleh Immanuel Kant. Pemikiran-pemikiran Kant yang terpenting di antaranya ialah pemikirannya akal murni. Menurutnya bahwa dunia luar itu kita ketahui hanya dengan sensasi, dan jiwa bukanlah sekedar tabula rasa, tapi jiwa merupakan alat yang positif, memilih dan merekonstruksi hasil sensasi yang masuk itu dikerjakan oleh jiwa dengan menggunakan kategori yakni mengklasifikasikan dan mempersepsikannnya ke dalam ide.

e. Pragmatisme

Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.

Oleh sebab itu, kebenaran sifatnya menjadi relative tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka Konsep itu dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua.
Filsuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan Jhon Dewey.

f. Eksistensialisme

Eksistensialisme berasal dari kata eksistensi dari kata dasar exsit. Kata eksit itu sndiri adalah bahasa latin yang artinya: ex, keluar dan sistare: berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri.

Dalam membuat definisi eksistensialisme kaum eksistensialis tidak sama tentang apa yang dimaksud sebenarnya dengan eksistensialisme. Namun, demikian ada sesuatu yang dapat disepakati oleh mereka yaitu sama-sama menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral.

Tokoh yang terkenal dalam filsafat eksistensialisme, di antaranya yaitu: Martin Heidegger, J.P Sartre dan Gabriel Marcel.

g. Positivisme

Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif sesuatu yang di luar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan. Positivisme dipopulerkan oleh Auguste Comte. Comte mengklaim pengetahuan positif-ilmiah adalah pengetahuan yang pasti,nyata, dan berguna. 

Ia menolak metafisika dengan keyakinan bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui manusia adalah apa yang tertangkap indera. Para metafisikus yang mereka –reka kemutlakan semesta dipandang sebelah mata oleh Comte. Menurutnya, para filsuf spekulatif tersebut belum mencapai tahap positif. Positivisme sangat menekankan sains atau ilmu positif sebagai puncak perkembangan manusia.

Positivisme yakin bahwa masyarakat akan mengalami kemajuan apabila menghargai sains dan teknologi. Slogan positivism yang amat terkenal berbunyi, “savoir pour prevoir, prevoir pour pouvoir”, (dari ilmu muncul prediksi dan dari prediksi muncul aksi.)

h. Matrialisme

Aliran filsafat materialism memandang bahwa realitas seluruhnya adalah materi belaka. Dalam pandangan materialism, baik yang kolot maupun yang modern, manusia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda seperti kayu dan batu. Akan tetapi, materialism mengatakan bahwa pada akhirnya, jadi pada prinsipnya, pada dasarnya, manusia hanyalah sesuatu yang material; dengan kata lain materi, betul-betul materi.

Aliran filsafat materialism memandang bahwa realitas seluruhnya adalah materi belaka. Tokoh aliran ini adalah Ludwig Freuerbach (1804-1872M). Menurutnya  hanya alamlah yang ada. Manusia adalah alamiah juga.

i. Marxsisme

Karl Marx adalah pelopor lahirnya Marxsisme. Aliran Marxsisme lahir dari suatu pertemuan dari tempat-tempat Karl Marx dalam sejarah ide-ide dan suatu pertemuan dari tempat-tempat Karl Marx dalam sejarah ide-ide dan suatu detik sejarah perjuangan kelas-kelas yaitu kelahiran gerakan buruh. 
Aliran Filsafat Marx disebut juga materialism dialetika, dan disebut juga materialism historis. 

Disebut sebagai materialism dialetika karena peristiwa kehidupan yang didominasi oleh keadaan ekonomis yang materiil itu berjalan melalui proses dialetika,tese, antitese dan sentise. Mula-mula manusia manusia hidup dalam keadaan komunitas asli tanpa pertentangan kelas, di mana alat-alat produksi menjadi milik bersama (tese).

Kemudian timbul milik pribadi yang menyebabkan adanya kelas pemilik (kaum kapitalis) dan kelas tanpa milik (kaum proletar) yang selalu bertentangan (antitese). Jurang antara kaum kaya (kapitalis) dan kaum miskin (proletar) semakin dalam. Maka, timbul dictator proletariat dan terwujudlah masyarakat tanpa kelas di mana alat-alat produksi menjadi milik masyarakat atau negara (sintese).

C.  Komponen – Komponen Filsafat Ilmu dan Penerapannya dalam Ilmu Komunikasi.

Filsafat Ilmu memiliki tiga komponen yang sangat penting yaitu Ontologis, Epsitemologis  dan Aksiologis. Bisa dikatakan juga bahwa filsafat merupakan induk dari ilmu sekarang. Menurut Bertrand Rusell (1872-1970) mendefinisikan filsafat sebagai ranah tak bertuan (no man’s land) di antara teologi dan ilmu pengetahuan.

1. Ontologis adalah “being” – ada, realitas. Pandangan Ontologis itu terdiri dari tiga bagian yakni kepada Tuhan, Alam, dan Manusia. Landasan ontologism ilmu pengetahuan sangat tergantung pada cara pandang ilmuwan terhadap realitas. Manakala realitas yang dimaksud adalah materi, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu empiris.

2. Epistemologis adalah bagaimana cara ilmu di dapatkan. Landasan Epsitimologis pengembangan ilmu, artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan didasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran.

3. Landasan aksiologis adalah untuk apa ilmu digunakan. Landasan aksiologis pengembangan ilmu merupakan sikap etis yangb harus dikembangkan oleh seorang ilmuwan, terutama dalam kaitannya dengan nilai-nilai  yang diyakini kebenarannya.

Komunikasi sudah ada sejak manusia itu lahir. Bahkan komunikasi merupakan salah satu alat berfilsafat selain berfikir. Komunikasi dibagi menjadi 3, 

1. Komunikasi intrapersonal, 

2. Komunikasi Interpersonal, 

3. Komunikasi Massa. 

Lalu bagaimana cara menerapkan komponen –komponen filsafat ilmu dalam ilmu Komunikasi?

Ilmu merupakan pengetahuan yang sistematis, harus empiris, dan ilmu berusaha melihat kausalitas dan ilmu harus memiliki objek.

Jika, dilihat secara seksama dalam pengertian ilmu kita menangkap sinyal pengetahuan. Dasar-dasar pengetahuan secara umum di dorong oleh rasa keingintahuan manusia.

Begitu pula filsafat. Pengalaman manusia dalam menangkap kerasa ingin tahuannya mendorong akal dan perasaanya untuk mencari kebenaran yang bisa diukur dan diperhitungkan. 

Benang merahnya, pengetahuan datang dari pengalaman. Dan mencari pengetahuan pun dilakukan dengan mengkomunikasikan idea tau bahasa. (animal symbolic). Dan dilakukanlah berfikir adalah mengemukakan pikiran-pikiran dalam mencari kebenaran: lewat logika.

Komponen filsafat ilmu dalam ilmu komunikasi:

Ontologis  : rasa keingintahuan manusia sebagai kosmos.

Epistimologis          : Pengalaman dengan menggunakan akal dan perasaan serta mengkomunikasikan idea atau bahasa.

Aksiologis : mengembangkan ilmu pengetahuan, mencari sebuah kebenaran.

Dengan adanya filsafat ilmu maka lahirlah ilmu komunikasi maupun ilmu lainnya yang masih bersinkronisasi dengan komunikasi diantaranya:

1. Filsafat Komunikasi

2. Psikologi Komunikasi

3. Komunikasi Politik

4. Sosiologi Komunikasi

5. Antropologi Komunikasi

6. Komunikasi Bisnis

7. Komunikasi Massa, dan lain sebagainya..           





Daftar Pustaka :

Ihsan,Fuad (2010).Filsafat Ilmu. Jakarta : Rineka Cipta.

Lubis,A.Y dan Adian,D.G (2011).Pengantar Filsafat Ilmu Pengetahuan. Depok: Koekoesan.

West,R., dan Turner, L.H (2009).Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi.
Jakarta: Salemba Humanika.

Konsep Iman, Islam, dan Ihsan

Pendahuluan

Iman, Islam dan Ihsan sangatlah penting terutama bagi Dien Islam. Ketiganya hanya bisa dibedakan satu sama lain, tetapi tidak bisa dipisahkan. Menurut Nurcholis Madjid; Iman, Islam dan Ihsan disebut sebagai trilogi ajaran Illahi.


sumber:internet

Dalam sebuah hadis digambarkan bagaimana hubungan antara iman, islam, dan ihsan. Hadis tersebut merujuk pada dialog antara Nabi Muhammad Saw dan malaikat Jibril :

“Nabi Muhammad Saw keluar dan (berada di sekitar sahabat) seorang datang menghadap beliau dan bertanya: “Hai Rasul Allah, apakah yang dimaksud dengan iman?” Beliau menjawab: Iman adalah engkau percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, pertemuan dengan- Nya, para utusan-Nya, dan percaya kepada kebangkitan.” Laki-laki itu kemudian bertanya lagi: “Apakah yang dimaksud dengan Islam?” Beliau menjawab: “Islam adalah engkau menyembah Allah dan tidak musyrik kepada-Nya, engkau tegakan salat wajib, engkau tunaikan zakat wajib, dan engkau berpuasa pada bulan Ramadan.” Laki-laki itu kemudian bertanya lagi: “Apakah yang dimaksud dengan Ihsan?” Nabi Muhammad Saw menjawab: “Engkau sembah Tuhan seakan-akan engkau melihat-Nya, apabila engkau tidak melihat-Nya, maka (engkau berkeyakinan) bahwa Dia nelihatmu…” (Bukhari,I,t.th:23).

Dari hadis di atas, sebenarnya sudah kita pahami apa arti dari sebuah konsep Iman, Islam, Ihsan itu sendiri. Seperti hubungan satu sama lainnya dan hakikatnya pada Dien Islam. Dalam makalah ini lebih lanjut kami akan membahas mengenai konsep Iman, Islam dan Ihsan.

Pembahasan

Konsep iman, islam, dan ihsan.

Konsep bisa diartikan sendiri adalah universal di mana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap ektensinya. Itu artinya konsep juga dapat diartikan pembawa arti. Dari pendahuluan di atas, salah satu hadis telah menjelaskan hubungan antara ketiganya: Iman, Islam dan Ihsan. 

Dan bisa diartikan bahwa hadist tersebut telah memberikan ide kepada umat Islam tentang rukun Iman yang enam, rukun Islam yang lima, dan penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha hadir dalam hidup, itu artinya, ketiga hal itu hanya dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Antara yang satu dengan yang lainnya memiliki keterikatan.
  
Oleh karena itu, setiap pemeluk agama Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam tidak absah tanpa Iman, dan Iman tidak sempurna tanpa Ihsan. Sebaliknya, Ihsan mustahil tanpa Iman, dan Iman juga mustahil tanpa Islam.

Ibnu Taimiah menjelaskan bahwa din itu terdiri dari tiga unsur, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Dalam tiga unsur itu terselip makna kejenjangan (tingkatan): orang mulai dengan Islam, kemudian berkembang ke arah Iman, dan memuncak dalam Ihsan. 

Apa yang diutarakan oleh Ibnu Taimiah merujuk pada surat al-Fathir (35) ayat 32: “Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri; dan di antara mereka ada yang pertengahan; dan di antara mereka ada pula yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah…”

Di dalam al Qur’an dan Terjemahannya yang diterbitkan Depag, dijelaskan sebagai berikut: pertama,”orang-orang yang menganiaya diri sendiri” (fa minhum zhalim li nafsih) adalah orang  yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya; kedua, “orang-orang pertengahan” (muqtashid) adalah orang-orang yang antara kebaikan dengan kejelekannya berbanding; dan ketiga,”orang-orang yang lebih dulu berbuat kebaikan” (sabiq bi al khairat).

Sementara Ibnu Taimiah menjelaskan sebagai berikut: pertama, orang-orang yang menerima warisan kitab suci dengan mempercayai dan berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, namun masih melakukan perbuatan-perbuatan zalim, adalah orang yang baru ber-Islam, suatu tingkat permulaan dalam kebenaran; kedua, orang yang menerima warisan kitab suci dapat berkembang menjadi seorang mukmin, tingkat menengah, yaitu orang yang telah terbebas dari perbuatan zalim namun perbuatan kebajikannya sedang-sedang saja; dan ketiga, perjalanan mukmin itu (yang terbebas dari perbuatan zalim) berkembang perbuatan kebajikannya sehingga ia menjadi pelomba (sabiq) perbuatan kebajikan; maka ia mencapai derajat ihsan. “Orang yang telah mencapai tingkatan ihsan,” kata Ibnu Taimiah,” akan masuk surga tanpa mengalami azab.” (Nurcholis Madjid dalam Budhy Munawar-Rachman (ed.), 1994:465).

Iman sebagai landasan Islam dan Ihsan, Islam sebagai bentuk manifestasi Iman dan Ihsan, sedangkan Ihsan mengusahakan agar keimanan dan keislaman yang sempurna. Secara lahiriyah orang tidak dapat dikatakan Islam manakala tidak mengucapkan syahadat, ibadah shalat, zakat berpuasa ramadhan, dan menunaikan haji yang merupakan pelaksanaan Ihsan secara lahiriyah, atau kesempurnaan Islam itu sama sekali tidak berarti, jika tidak dilandasi Iman ( Tashdiq ) dan Islam ( membaca syahadat ). Ibadah shalat, zakat, puasa, haji dan lain lain akan menjadi berarti manakala ada Iman dan Islam, karena syarat Ihsan secara lahiriyah harus dengan Iman dan Islam, meskipun sahnya Iman dan Islam itu tidak harus dengan Ihsan.

Memang Iman dan Islam itu otonom jika dilihat dari keabsahanya, karena Iman dan Islam sudah merupakan jaminan keselamatan dunia dan ahirat. Iman yang benar dapat menyelamatkan dari keabadian siksa Neraka, sedangkan Islam dapat menjaga hak hidup lahiriyah yang berhubungan dengan agama dan Mu’amalah, Munakahat, Waris mewaris dan lain sebagainya. Tetapi kemungkinan Iman dan Islam itu akan menjadi kering kerontang, bahkan musnah sama sekali dari lubuk hati, manakala tidak mengakui atas segala dosa dosa yang telah dilakukanya, karena suatu dosa lambat laun akan menyeret pelakunya pada kekufuran, jika tidak lekas di taubati. 

Oleh sebab itu sebagai Mukmin yang baik disamping beriman dan berislam, hendaklah melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan Allah SWT, secara sadar, agar memperoleh Ihsan yang sebenarnya.

Iman

Iman sendiri memiliki pengertian percaya.

Iman mengandung arti ketentraman dan kedamaian kalbu yang dari kata itu pila muncul kata al-amanah (amanah: bisa dipercaya), lawan dari al-khiyanah (keingkaran). Seseorang dikatakan al-amin manakala, hati ini tentram karena perilakunya yang baik dan tidak khawatir bahwa orang itu akan berlaku khiyanat. 

Yang dimaksud keimanan seseorang terhadap sesuatu adalah bahwa dalam hati orang tersebut telah tertanam kepercayaan dan keyakinan tentang sesuatu itu dan sejak saat itu ia tidak khawatir lagi terhadap menyelusupnya kepercayaan lain yang bertentangan dengan kepercayaan. 

Ada pun dalam hal ini, kami mengartikan iman disini pada rukun iman yang enam, yakni:

1. Iman kepada Allah SWT

Al Qur’an menyebut Allah sampai 2799 kali mulai dengan menerangkan tentang keesaan Tuhan dan mengakhiri dengan keesaan Tuhan Pula. Ayat tersebut diantaranya: Surat (7) Al A’raaf ayat 59 :

“…Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya…” 
Dan, surat Al Anbiyaa ayat 25 :

“Dan tidak kami utus Rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan selain Aku; karena itu sembahlah Aku”.

2. Iman kepada Malaikat-Nya

Surat Al Baqarah (2) ayat 177 :

“Bukankah menghadapkan wajah kamu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…”

Juga, surat Al Baqarah (2) ayat 285:

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya demikian (pula) orang-orang yang beriman, semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya…”

3. Iman kepada kitab-kitab-Nya

Surat Al Maidah (5) ayat 48 :

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Kitab Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya), dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…”

4. Iman kepada Rasul-rasul Allah

Surat Yunus (10) ayat 47 :

“Dan tiap umat mempunyai rasul-rasul…”

5. Iman kepada hari Akhir (Kiamat)

Surat As Sajdah (32) ayat 21 :

“Dan sesungguhnya akan Kami rasakan kepada mereka sebagian dari siksaan yang dekat (di dunia) sebelum siksaan yang besar (di akhirat), agar mereka kembali (pada jalan yang benar).”

6. Iman kepada qada dan qadar

Beriman kepada qada dan qadar berarti mengimani apa yang sudah digariskan oleh Allah kepada manusia. Akan tetapi tidak menghilangkan juga kewajiban untuk berikhtiar sekuat tenaga.

Islam

Rukun iman jelas harus diamalkan, karena tidak diamalkan, maka akan merupakan iman kosong belaka. Untuk mengamalkan rukun iman ini ditetapkan kewajiban yang disebut rukun Islam.

Islam sendiri secara bahasa memiliki pengertian diantaranya:

1. Berserah diri (Aslama) : surat Ali Imran ayat 3, dan Al Maidah ayat 125.
2. Tunduk patuh (Istislam) : surat Al Baqarah ayat 131
3. Bersih/suci (Saliim) : Asy Syu’araa’ ayat 89
4. Selamat/sejahtera (Salama) : Al Maidah ayat 15-16 dan Al An’am ayat 54
5. Perdamaian (Silmu) : Al Anfaal ayat 61 dan Muhammad ayat 35

Menurut Prof. Hasbi Ashidqy, Islam dan tugas kerasulan:

1. Membersihkan aqidah
2. Membersihkan akhlaq
3. Mengatur ibadah
4. Mengatur Muammalah
5. Memberi petunjuk pada jalan keselamatan, kedamaian, dan kebenaran.

Sementara itu, rukun islam ada 5 sebagai media aplikasi dari iman:

1. Mengucapkan dua kalimat syahadat

Surat Al A’raaf (7) ayat 158 :

“Katakanlah : Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan selain dari Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan…”

2. Mendirikan Shalat

Surat Al Ankabuut (29) ayat 45 :

“Bacakanlah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Al Kitab dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah manusia dari perbuatan yang keji dan mungkar dan sungguh ingat pada Allah adalah lebih besar (manfaatnya), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

3. Shaum atau Puasa

Surat Al Baqarah (2) ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu berpuasa.”

4. Zakat

Surat At Taubah (10)  ayat 60 :

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

5. Haji

Surat Ali Imran (3) ayat 97 :

“… mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya…”

Ihsan

Ihsan berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan. Allah swt. berfirman. “Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (QS Al-Isra’: 7). Dan irfman Allah : “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (QS. Al-Qashash: 77)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk Allah Swt.

Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah Swt.  Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah Swt. Rasulullah Saw pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.

Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan.

Sundulan Benzema, Hempaskan Granada (1-0)

(Liga Spanyol)- Sabtu,19/9/2015, Asa Granada untuk meraih tiga angka harus kandas lewat sundulan Karim Benzema di menit ke-55. 

Granada sendiri sempat memberikan kejutaan lewat El Arabi di menit 20, namun sayang gol El Arabi harus dianulir karena Offside.

Skor 1-0 untuk kemenangan Real Madrid bertahan hingga peluit akhir dibunyikan. (Red)

Gokusen Film Quotes

Film Gokusen merupakan film yang berasal dari Jepang. Film yang bercerita mengenai seorang guru yang merupakan keturunan seorang yakuza. Harus mengajar di kelas yang dimana murid-muridnya sulit diatur dan memiliki masalahnya masing-masing. Guru yang biasa di panggil Yankumi oleh muridnya ini, berusaha untuk menutupi identitasnya sebagai yakuza. 

Berikut beberapa Quotes dari film Gokusen:

1. Mungkin kalian tak memiliki kemampuan bagus dalam akademis, tapi kalian punya hal yang paling penting sebagai manusia, yaitu hati kalian. 
gambar: internet

2. Mungkin bagi kami untuk mengangkatmu, tapi yang terpenting, kau harus berdiri sendiri dan menghadapi orang yang menyiksamu.

3. Seberapa banyak pun kami mengangkatmu, tak akan bisa kalau kau lemah.

4. Kau tak bisa mengatakan dirimu kuat, kalau jiwa dalam tubuhmu tidak bersatu.

5. Orang lain tidak akan bertoleransi, pada orang-orang yang tidak bisa berdiri sendiri.

6. Semua orang ingin melarikan diri saat menemui masalah, tapi kalau melarikan diri tidak ada gunanya,kan?

7. Saat suatu hal buruk datang, bangkit dan terus maju, bukankah itu yang dinamakan kehidupan?

8. Kau punya teman yang senang bersama denganmu selamanya. (p-s).

Chelsea Beat Arsenal 2-0

(Premier League), 19/9/2015. Chelsea berhasil mengalahkan Arsenal 2-0 lewat gol K.Zouma di awal babak kedua dan Edin Hazard di menit 90. Memanfaatkan tendangan bebas Fabregas, Zouma berhasil mengoyak jala Cech lewat sundulan kepala. Arsenal sendiri harus bermain dengan 9 pemain, setelah kapten tim, Santi Cazorla harus mendapatkan kartu merah di menit 79 setelah melanggar Fabregas.

Sebelumnya, di akhir babak pertama Arsenal harus bermain dengan 10 pemain setelah Gabriel dikeluarkan wasit karena melanggar Diego Costa.

Skor akhir tetap bertahan 2-0 untuk keunggulan Chelsea. (red).