Teras Berita dan Isi (Tugas Jurnalistik 2 Mei 2013)

Sumber: Internet

 Lead bisa disebut teras berita. Fungsinya sebagai ruang khusus sebelum memasuki ruang utama (inti). Di dalam lead sering unsur-unsur (5W+1H) sudah tercakup. Namun, sering juga tidak lengkap. Yang penting, sebuah lead harus sanggup memancing audience untuk mau dan tertarik mengikuti berita selanjutnya sampai selesai.

Sembilan teras berita,

Pertama, teras ringkasan. Teras ringkasan adalah teras yang mengambil intisari, atau ringkasan, sebuah tulisan.

Kedua, teras paparan. Teras paparan adalah teras yang ditulis dengan gaya bercerita. Namun, bercerita atas dasar fakta dan kebenaran.

Ketiga, teras deksripsi. Teras deskripsi adalah teras yang mendeskripsikan suatu peristiwa. Melukiskan suatu peristiwa, sedemikian rupa, sehingga pembaca dituntun seolah-olah melihat dan mengalami peristiwa itu secara langsung.

Keempat, teras tanya. Teras tanya adalah teras yang dimulai dengan pertanyaan atau dialog langsung dengan pembaca.

Kelima, teras kutipan langsung. Teras ini adalah teras yang mengutip kata-kata narasumber.

Keenam, teras berkomunikasi langsung.Teras ini adalah penulis berkomunikasi langsung dengan pembaca.

Ketujuh, teras bersifat teka-teki. Teras ini adalah teras dimana penuh dengan teka-teki. Pembaca belum menemukan pokok persoalan membaca kalimat pertama.Sesudah beberapa kalimat, baru menjadi jelas.

Kedelapan, teras imajinatif. Teras ini adalah teras yang menggambarkan (image), suatu kejadian secara dramatis.Dapat satu kata, dapat pula dirangkaikan dengan beberapa kata.

Dalam Teras Berita jangan mendahulukan waktu atau tempat. Awali dengan Who + What. Sedangkan dalam isi, berita harus terdiri dari kalimat-kalimat pendek. Dan untuk lebih memverifikasi berita, lakukanlah membaca, tuliskan, ulas, editing, dan publish.

Cara Menulis Judul Berita Yang Baik (Tugas Jurnalistik Online 2 Mei 2013).

Sumber: Internet
Judul merupakan "mata kail" yang sanggup menarik masuk seluruh perhatian dan daya cipta audience agar mau mengikuti berita yang ditulis. ada lima cara menulis judul berita yang baik.

Pertama, Gunakan Subjek dan Predikat. Contoh: Persib Menang atau SBY Galau.

Kedua, Ringkas. Biasakan Judul itu menggunakan kalimat yang ringkas.Karena bagaimanapun Judul berita, harus mencerminkan isi dari berita. contoh judul yang salah (Terduga Terorisme Meninggal Dunia Dengan Luka Tembak di Dada di Bandung). Cukup judul tersebut dengan (Terduga Teroris Tewas di Bandung).

Ketiga,Mencerminkan Isi. Judul yang baik adalah judul yang sesuai dengan isi berita. Jangan sampai judul A tapi isinya B.

Keempat, Hindari Kata Tanya. Misalnya, Siapakah Gerangan Pengganti Fergie? cukup dengan Calon Pengganti Fergie, Disiapkan.

Terakhir, lazimnya gunakan How + to do. (penggunakan bentuk kalimat aktif, bukan pasif juga bisa menjadi sangat penting. Sebab, lazimnya judul berita menggunakan kalimat aktif karena daya (power)-nya dahsyat.

Semoga Bermanfaat!

Lima Dasar Menulis Berita (Tugas Jurnalistik Online, 2 Mei 2013).

sumber: Internet
Pertama, Berita adalah laporan peristiwa. Jangan sisipkan opini maupun penilaian didalamnya.

Kedua, harus memiliki unsur 5W+1H didalam berita. Unsur tersebut; What(apa yang terjadi?), Who (Siapa yang terlibat?),Where (Dimana terjadinya?),When (Kapan hal itu terjadi),Why (Mengapa hal itu terjadi?) dan How (Bagaimana kejadiannya?)(Romli,2010:104).Selain itu,ada dua unsur tambahan lainnya, So What+Next.

Ketiga, Gunakan pola baku penyusunan berita. Gunakan piramida terbalik. Piramida terbalik, berarti pesan berita disusun secara deduktif. Kesimpulan dinyatakan terlebih dahulu pada paragraf pertama, baru kemudian disusul dengan penjelasan dan uraian yang lebih rinci pada paragraf-paragraf berikutnya.


Keempat, Lakukan secara berstruktur.(Head-Lead-Body).
Head (Judul Berita), intisari berita. Dibuat dalam satu atau dua kalimat pendek, tapi cukup memberitahukan persoalan pokok peristiwa yang diberitakan.
Lead (Teras Berita), Lead merupakan sari dari berita itu. Selaku sari dari berita, lead merupakan laporan singkat yang bersifat klimaks dari peristiwa yang dilaporkan.
Body (Tubuh atau Kelengkapan Berita), pada bagian ini kita jumpai semua keterangan secara rinci dan dapat melengkapi serta memperjelas fakta atau data yang disuguhkan dalam lead tadi.

Terakhir, Jenis berita yang digunakan. (Even News atau Opinion News).
Even News adalah berita yang berasal dari sebuah kejadian atau peristiwa.
Opinion News adalah berita yang berasal dari pernyataan seseorang (tokoh masyarakat, selebritis, politikus, dan lain-lain) atau lembaga.

Semoga Bermanfaat !

Tujuh Pedoman Dalam Jurnalistik Baru (Tugas Jurnalistik Online,2 Mei 2013).

sumber: internet
Untuk mendalami Jurnalistik baru, seorang jurnalis harus menguasai tujuh pedoman jurnalistik baru.

Pertama, tidak memiliki masaladengan jurnalistik.Artinya, seorang jurnalsi harus benar-benar siap sebagai seorang jurnalis.

Kedua, Memiliki kualitas tinggi terhadap jurnalistik. Dibutuhkan motivasi dan keinginan kuat untuk menjadi seorang jurnalis.

Ketiga, sepanjang bisa menulis berita dan beritanya tidak berbohong maupun omong kosong. Seseorang bisa terus melakukan kegiatan jurnalistik.

Keempat, Dalam Jurnalistik baru ini. Jadilah seseorang yang unik, dan bermanfaat, berkemampuan lengkap sebagai jurnalis.

Kelima,jika kamu benar-benar ingin menjadi jurnalis. Buatlah blog,luncurkan,terus kembangkan, dan tuliskan. Jika blog kamu berbeda dari yang lain. Kemungkinan besar kamu akan berhasil.

Keenam, belajarlah berinteraksi dengan orang-orang di dunia maya. seperti, mengomentari atau membalas komentar.

Terakhir, Teruslah lahap buku sebanyak-banyaknya agar bisa menambah ilmu dan pengetahuanmu.

Semoga bermanfaat!

sumber: bigshow

Antara Ramadhan dan Umat Islam di Indonesia ( Lentera menuju perbaikan diri yang lebih baik )

sumber: internet
Bulan Ramadhan tak terasa akan memasuki sepuluh hari terakhir. Namun, apabila kita lihat. Semakin lama shaf – shaf shalat Tarawih semakin berkurang. Apabila kita analogikan. Kondisi seperti ini, “Bagaikan orang yang menonton Bioskop ”. Artinya, ” Ketika film akan mencapai klimaksnya, terkadang ada sebagian penonton  yang tidur, pergi ke WC, atau malah dimanfaatkan dengan hal “maaf” tidak baik.

Begitu pula, dengan pelaksanaan shalat Tarawih di bulan Ramadhan. Di saat malam – malam puncak di bulan Ramadhan yang begitu di muliakan Allah. Sayang, malam -  malam  itu tidaklah mereka ( umat Islam ) manfaatkan sebaik mungkin. Padahal, dalam malam tersebut terdapat malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjelaskan dalam surat Al Qadar (  97  ) ayat 1 – 5, yang artinya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya ( Al Qur’an ) pada malam kemuliaan . Dan taukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat – malaikat dan malaikat Jibril dengan ijin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu ( penuh ) kesejahteraan sampai terbit fajarnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu ( penuh ) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Jika kita melihat dan memperhatikan arti ayat di atas. Justru pada saat puncaklah kita seharusnya memberikan segala perhatian kita pada bulan Ramadhan ini.  Malam Lailatul Qadar tidak akan datang pada bulan – bulan yang lain. Tapi, hanya bulan Ramadhan saja. Apakah kita tidak ingin mendapatkan kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan? Coba kita bayangkan, 1 bulan = 30 hari atau bahkan ada yang 31 hari. 30 hari x 1000 = 30.000 hari, 30.000 / 365 hari = 82,1917808 apabila kita bulatkan menjadi 82 th. Apakah kita sanggup beribadah 82 th ? Apakah umur kita sanggup mencapai 82 th? Apakah kita masih kuat melaksanakan ibadah di Usia 82 th.

Sungguh beruntung, orang – orang    yang mendapatkan Lailatul Qadar. Sungguh Mulia apabila seluruh umat Islam di Indonesia mendapatkan malam Lailatul Qadar. Sungguh baik apabila setelah usainya bulan Ramadhan, masjid – masjid penuh bagaikan bulan Ramadhan yang menurunkan Malam Qadar. Namun, yang menjadi pertanyaan apakah umat Islam, setelah berakhirnya bulan Ramadhan akan kembali pada Fitrahnya ?

Sebagian mungkin, “YA” tapi mungkin sebagian lagi “TIDAK”. Bisa saja mereka ( umat Islam ) memang kembali ke fitrahnya, Miras beredar luas lagi, Narkoba meracuni para remaja, Free sex kembali marak, bahkan sampai aborsi. Nauddzubillah.

Seharusnya Indonesia menjadi Negara beruntung, karena memiliki wilayah yang begitu luas sebesar 1.904.569 km2, dengan kepadatan penduduk 124 /km2. Bahkan umat Islam di Indonesia berjumlah 85,2 % dari penduduk Indonesia yang mencapai 237.556.363  . Tapi, kini malah “Buntung”. Aceh ingin melepaskan diri dari NKRI, Maluku dan Papua ingin mendirikan Negara sendiri. Kemudian kasus Korupsi dan Terorisme yang menjadi ancaman bagi generasi muda kita, khususnya umat Islam. Mau dibawa kemana Negara kita?

Seharusnya umat Islam kita harus menjadi pelopor, bukan malah ditembak “pelor” oleh Polisi karena kedapatan Judi. Bersatu dalam mencapai cita – cita untuk memajukan Bangsa dan Agama Islam di Indonesia. Itulah, yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam di Indonesia.  Janganlah umat Islam di Indonesia mudah terprovokasi, oleh hal – hal yang tidak penting. Karena, jika umat Islam mudah terprovokasi, salah satu ancamannya yaitu akan terjadinya pecah belah umat bahkan bisa menimbulkan kerusakan materi  maupun fisik.

Bukankah dalam semboyan kita di katakan “ Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh”. Bagaimana jadinya apabila umat Islam di Indonesia kemudian hancur karena tidak ada persatuan ? Jawabannya cuma satu “KIAMAT”.

Mulailah dari sekarang umat Islam bercermin, lihat apa kekurangan kita. Apa yang mesti kita perbaiki. Dari mulai diri sendiri, Keluarga, Lingkungan, sampai ke Pemerintahan. Umat Islam memerlukan benteng diri dari globalisasi jaman dan moderenisasi mode. Pemerintah seharusnya meningkatkan jam pelajaran agama Islam di SD / SMP / SMA menjadi, misal : 6 jam / minggu, tidak seperti sekarang yang hanya 2 jam / minggu. Atau kembali mengembangkan Pengajian – Pengajian atau Majelis – Majelis  dakwah di lingkungan RT / RW Se-tempat. Ingat, umat Islam jaman dahulu begitu hebat karena mereka rutin mengaji. Sebaliknya, umat Islam sekarang terpuruk karena malas mengaji.

Bukankah, jaman dahulu Rasulllah Saw, berdakwah secara sembunyi – sembunyi pada kondisi masyarakat yang sedemikian rusak. Dan mereka mendirikan sebuah majelis yang dinamakan Darul Arqam. Sebuah majelis yang hanya berisi delapan sampai sepuluh sahabat. Majelis ini diselenggarakan di rumah Arqam bin Abil Arqam. Hebatnya, majelis ini  mampu melahirkan manusia – manusia para pengukir sejarah Islam yang memberikan cahaya Islam di tengah kegelapan jahiliah pada jaman itu.

Bukan tidak mungkin, umat Islam di Indonesia pun  mampu untuk melahirkan Darul Arqam – Darul Arqam baru, mulai dari pelosok Desa sampai Kota, dari Sekolah sampai Pemerintahan. Rasullulah saw bersabda, “Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti, sampai ditanya tentang empat perkara : tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan? Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan kemana ia nafkahkan? Dan tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan darinya?”( HR Turmudzi ).

Menjadi Islam yang Kaffah memanglah tidak gampang, tapi cobalah dari hal – hal yang kecil bila kita ikhlas, namun berat jika kita malas . Misalnya: saat ini kita sedang mendapatkan kenikmatan yang sangat besar yaitu melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dengan sebaik – baiknya, melaksanakan apa yang menjadi kewajibanNya, dan menjauhi segala LaranganNya. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Abu Hurairah bahwa Rasullulah Saw bersabda : “Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah telah memfardukan kamu berpuasa didalamnya,dan aku  telah mensunahkan kamu berdiri dan beribadat didalamnya. Barangsiapa berpuasa dan bershalatul qiyam didalamnya karena iman dan karena mengharapkan ridha Allah, niscaya ia keluar dari dosanya, seperti hari dilahirkan oleh Ibunya”.

Semoga di bulan Ramadhan ini umat Islam di Indonesia bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin, karena belum tentu apakah esok, lusa kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan lagi. Syeikh Ahmad Yasin, ulama kharismatik dari Palestina, dalam khutbahnya pernah berkata  : “ Tanpa Islam, umat Islam tak akan pernah meraih kemenangan. Harus ada sekelompok orang dari umat ini yang siap menerima panji kepemimpinan yang berpegang teguh kepada Islam, baik sebagai aturan, perilaku, pergerakan, pengetahuan, maupun jihad. Inilah satu – satunya jalan. Pilih Allah atau Binasa”.