Dua hari yang lalu, saya telah menyelesaikan membaca buku SABTU BERSAMA BAPAK karya Aditya Mulya. Menurut saya banyak, buku tersebut begitu ringan untuk dibaca. Sehingga saya sebagai pembaca terhanyut dalam cerita yang ditulis oleh Mas Aditya ini.
Buku ini, mengajarkan kepada saya akan pentingnya sebuah kebersamaan dalam keluarga. Bagaimana ibu menyayangi anaknya, Ayah yang membimbing keluarganya, Kakak yang mengayomi adiknya, adik yang menghormati kakaknya, dan tanggung jawab akan sebuah pekerjaan.
Karakter Cakra dalam buku ini, seolah menggambarkan saya sendiri. Kenapa? Karena Cakra Garnida berusia 30 tahun (saya sendiri masih umur 25 tahun) hehe. Merupakan seseorang yang telah sukses dalam karir namun tidak dengan cinta (saya mah sukses karir belum, cinta apalagi), ya sudahlah ya.
Karakter Cakra digambarkan terlalu kaku dan dingin ketika berhadapan dengan wanita, apalagi ketika ia bertemu dengan Ayu. Namun, lambat laun seiring berjalan waktu, karakter Cakra ini mulai cair dan menjadi sosok humoris dan bertanggung jawab. Saya suka karakter Cakra.
Ada lagi dengan Kakaknya, Satya seorang pekerja keras memiliki 3 anak dan 1 istri bernama Rissa. Awalnya, Satya adalah sosok pemarah, kalau sudah berkata A harus A, B harus B. Namun, ketika ia memutar kembali video Ayahnya. Ia sadar, bahwa ia tidak memaksakan kehendak, anak-anak tidak bisa dipaksakan, sehingga membuat anak-anak menjadi penakut akan sosok ayahnya. Dan pada Akhirnya, karakter Satya mulai mencair.
Sementara Rissa, seorang istri yang open mind, seorang yang pintar bermain saham, dan hormat pada mertuanya. (Salah satu kriteria calon istrikah???) well, selain cantik Rissa itu sosok istri yang... baca aja bukunya, hehe.
Ibu Itje, pengusaha 8 warung makan, tidak mau merepotkan anak-anaknya. Seorang pejuang, sebab ia berjuang demi bisa sembuh dari kanker payudaranya.
Sementara Ayah Satya dan Cakra, saya tidak bisa mendeskripsikanya. Lebih baik baca dan kita sharing bareng di blog saya ini. OK. Saya tunggu!!!
Buku ini, mengajarkan kepada saya akan pentingnya sebuah kebersamaan dalam keluarga. Bagaimana ibu menyayangi anaknya, Ayah yang membimbing keluarganya, Kakak yang mengayomi adiknya, adik yang menghormati kakaknya, dan tanggung jawab akan sebuah pekerjaan.
Karakter Cakra dalam buku ini, seolah menggambarkan saya sendiri. Kenapa? Karena Cakra Garnida berusia 30 tahun (saya sendiri masih umur 25 tahun) hehe. Merupakan seseorang yang telah sukses dalam karir namun tidak dengan cinta (saya mah sukses karir belum, cinta apalagi), ya sudahlah ya.
Karakter Cakra digambarkan terlalu kaku dan dingin ketika berhadapan dengan wanita, apalagi ketika ia bertemu dengan Ayu. Namun, lambat laun seiring berjalan waktu, karakter Cakra ini mulai cair dan menjadi sosok humoris dan bertanggung jawab. Saya suka karakter Cakra.
Ada lagi dengan Kakaknya, Satya seorang pekerja keras memiliki 3 anak dan 1 istri bernama Rissa. Awalnya, Satya adalah sosok pemarah, kalau sudah berkata A harus A, B harus B. Namun, ketika ia memutar kembali video Ayahnya. Ia sadar, bahwa ia tidak memaksakan kehendak, anak-anak tidak bisa dipaksakan, sehingga membuat anak-anak menjadi penakut akan sosok ayahnya. Dan pada Akhirnya, karakter Satya mulai mencair.
Sementara Rissa, seorang istri yang open mind, seorang yang pintar bermain saham, dan hormat pada mertuanya. (Salah satu kriteria calon istrikah???) well, selain cantik Rissa itu sosok istri yang... baca aja bukunya, hehe.
Ibu Itje, pengusaha 8 warung makan, tidak mau merepotkan anak-anaknya. Seorang pejuang, sebab ia berjuang demi bisa sembuh dari kanker payudaranya.
Sementara Ayah Satya dan Cakra, saya tidak bisa mendeskripsikanya. Lebih baik baca dan kita sharing bareng di blog saya ini. OK. Saya tunggu!!!
